BERITA TERKINI DARI :

Loading...
Tampilkan postingan dengan label Buletin Alhidayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin Alhidayah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Oktober 2010

PENGORBANAN SUCI

ﺴﻣ ﺎﻠﻠﻪ ﺎﻠﺮ ﺤﻣﻦ ﺎﻠﺮ ﺤﻴﻣ

Gema takbir dan tahmid bergema di angkasa raya, menusuk dada menembus hati, penuh khusyuk dan tawadhuk, rasa syukur mengiringi hari-hari suci dalam hati. 
                Hari raya kurban, memang mengandung makna kurban, dimana waktu Nabi Ibrahim a.s. menerima ujian dari Allah untuk menguji sampai dimana keimanannya sebagai hamba Allah yang telah menyatakan Iman dan taat kepada Allah SWT.
                Sebagaimana kita ketahui bahwa ibadah haji dan kurban adalah berakar dari sejarah Nabi Ibrahim a.s. beserta istri beliau Siti Hajar dan putranya Ismail a.s. Betapa besar takwa beliau menaati perintah Allah SWT. maka dengan rela anak, istri beliau tinggalkan di lembah yang tandus, berbatu dan tidak ada sebuah pepohonan untuk berteduh serta tidak tidak ada satupun tempat untuk berlindung dari hembusan angin malam yang dingin.

                Dengan berbekal tawakal dan kesabaran, Siti Hajar hanya memakan apa yang ada ditanah yang gersang dan tandus. Ketika sang bayi menangis lantaran merasa haus dan dahaga, sedangkan tidak ada air yang dapat diminum. Maka Siti Hajar berlari kesana kemari untuk mencari air, dan akhirnya dalam lari-lari tersebut Siti Hajar melihat ada sebuah bukit, dengan hati yang senang Hajar berlari mendekati bukit tersebut, sesampainya diatas bukit tersebut  ( Shofa ) tidak ditemui sedikitpun air, dan dari puncak bukit itu Siti Hajar melihat lagi ada gumpalan air yang sangat jernih dari sebuah gunung, akhirnya Siti Hajar berlari lagi mendekati sumber air tersebut. Kejadian berlari-lari tersebut dilakukan oleh Siti Hajar sampai 7 kali.
                Dalam lari-lari tersebut Siti Hajar dikejutkan oleh suara malaikat yang memberitahukan bahwa anaknya yang menangis itu telah menggaruk-garukkan kakinya ke tanah, yang akhirnya dari tanah itu keluar air yang mengalir dengan derasnya, akhirnya sumber air yang terpancar itu berkumpul menjadi satu dan diberi nama sumur Zam-Zam.
                Dari cara perjalanannya Siti Hajar dan Ismai’il terambil bagian dari amalan ibadah Haji yang diwajibkan bagi umat Islam, misalnya lari ( sa’i ) antara bukit Shofa dan bukit Marwa sebanyak tujuh kali.
                Sudah bertahun-tahun Nabi Ibrahim pergi meninggalkan anak dan istrinya untuk menjalankan perintah Allah, namun kepergiannya yang cukup jauh tersebut Nabi Ibrahim masih ingat pada anak dan istrinya yang ditinggalkan di tanah yang tandus dan gersang tersebut semoga selamat


Setelah lama berpisah dengan anak istrinya, akhirnya Ibrahim merasa rindu untuk segera bertemu dan berkumpul dengan anak istrinya, akhirnya Ibrahim pergi untuk menemui istri dan anaknya, dan ditemuinya istrinya ditempat yang dulu sangat sepi dan tandus sekarang menjadi tempat yang ramai dan banyak dihuni oleh manusia. Sekarang tempat itu diberi nama Mekkah.




    Disuatu tempat yang bernama padang Arafah, ditempat itulah Ibrahim, Isma’il, dan Siti Hajar melepas kerinduanya, setelah itu mereka kembali ke Mekkah ( tempat dimana sumur zam-zam itu berada ), ditengah jalan mereka berhenti ( yang sekarang dinamakan Muzdalifah ), karena sangking lelahnya ditempat itu mereka berhenti dan istirahat.
    Pada saat istirahat itu, Ibrahim tidur sejenak, pada saat tidur itu Ibrahim bermimpi bahwa Allah memerintahkan untuk menyembelih Isma’il dan mimpi itu terjadi hingga tiga kali. Ketika Ibrahim terbangun dari tidurnya, hati Ibrahim berdebar-debar, rupanya ujian Allah datang lagi, dan ujian ini adalah yang paling berat yang harus dijalankan oleh Nabi Ibrahim.
    Setelah itu, Ibrahim memanggil Isma’il dan menceritakan tentang mimpi yang dialami oleh Ibrahim dan harus dilaksanakan. Mendengar cerita ayahnya tersebut, Isma’il menjawab tanpa ragu-ragu : “ Wahai Bapakku, sekiranya itu perintah Allah, maka laksanakan apa yang diperintahkanNya itu, dan insya Allah aku tetap tabah”.
      Ketika Ibrahim hendak melakukan penyembelihan, tiba-tiba tangan kiri Ibrahim yang memegang leher Isma’il diganti oleh Allah dengan hewan qurban. Penyembelihan pada diri Isma’il itu terjadi pada tanggal 10 Dzulhijjah dan bertempat di mina. Dan sekarang oleh umat Muhammad yang melakukan ibadah haji sama melakukan penyembelihan qurban di Mina, dan


bagi umat Islam yang tidak melakukan ibadah haji melakukan penyembelihan qurban yang didahului dengan sholat Iedhul Adha.
      Keterangan tersebut terdapat dalam Al Qur’an Surah Ash Shofat ayat 100-113, yang artinya :
      Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku          ( seorang anak ) yang termasuk orang-orang shaleh, Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai ( pada umur sanggup ) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : “ Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu ! “. Ia menjawab : “ Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu;. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis ( nya ),          ( nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia : “ Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan  mimpi itu “, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu     ( pujian yang baik ) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, ( yaitu )                           “ Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim “. Demikian Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan             ( kelahiran ) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami  limpahkan keberkatan  atasnya  dan  atas  Ishaq.  Dan  di antara  anak  cucunya  ada  yang  berbuat  baik dan  ada         ( pula )  yang  zalim  terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

  


AMALAN MULYA  BULAN DZULHIJJAH

1.                   Puasa Sunnah
            Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi : “ Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku “. Ada beberapa puasa yang dapat diamalkan pada bulan Dzulhijjah antara lain :
1.       Puasa Tarawiyah.
      Tanggal 8 Dzulhijjah.
( dalam Kitab Nihayatush Zein baik berpuasa mulai tanggal 1 sampai 8 Dzulhijjah ).
2.       Puasa ‘Arafah
      Dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Puasa ini dapat melebur dosa-dosa selama satu tahun yang lalu dan satu tahun sesudahnya.

2.                   Mengumandangkan Takbir ( Takbiran )
·         Iedul Adha
            Dimulai setelah sholat subuh pada hari ‘Arafah ( tgl 9 Dzulhijjah ) sampai setelah sholat Ashar tanggal 13 Dzulhijjah.
·         Iedul Fitri
            Dimulai terbenamnya matahari sampai khotib sholat ied turun dari mimbar
Ket :
o        Hendaknya bacaan takbiran Iedul Adha dipimpin oleh imam setelah sholat fardhu kecuali pada malam hari raya.
o        Jangan dibuat pujian ( bacaan sebelum sholat fardhu )
3.                   Melaksanakan Sholat Iedul Adha.
4.                   Menyembelih Hewan Qurban.
Ket :
            Bagi yang terbiasa melaksanakan puasa tengah bulan ( tgl 13, 14, 15 ) untuk tanggal 13 merupakan hari tasyrik diganti tanggal 16.       




Jumat, 15 Oktober 2010

REALITA HUKUM ISLAM DI INDONESIA

Dimanapun kita hidup pasti terikat oleh sebuah peraturan, baik peraturan tersebut tertulis atau tidak tertulis ( adat istiadat ). Apapun yang kita lakukan pasti ada aturannya, kita hidup di masyarakat pasti ada aturan yang telah ditetapkan oleh aparat seperti RT ataupun RW, saat kita sholat juga ada aturannya, saat kita mengendarai kendaraan di jalan juga ada aturannya, dan lain sebagainya. Semua aturan tersebut dibuat agar tercipta sebuah kehidupan yang selaras dan harmonis di dalam semua aspek.
Mungkin terkadang semua aturan-aturan yang telah ada, terasa sangat memberatkan kita, karena sifatnya yang mengikat dan kita sebagai manusia mempunyai sifat dasar sebagai seorang pembantah.
Contoh disaat kita akan berpergian di suatu tempat dengan tergesa-gesa, tiba-tiba ditengah-tengah perjalanan ada sebuah traffic light menyala merah maka kita wajib berhenti biarpun kita tergesa-gesa.
Tidak ada yang salah dari aturan-aturan tersebut, semua aturan-aturan itu dibuat demi kebaikan kita semua. Tetapi entah kenapa aturan-aturan yang ada kita sikapi dengan rasa penolakan denagn begbagai macam alasan.
Seperti sikap terhadap aturan-aturan dan hukum di dunia yang kita sikapi dengan rasa penolakan, tak jarang kita sering menyikapi aturan-aturan dan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dengan rasa penolakan.
Maka tak jarang di jaman akhir ini banyak orang-orang yang meninggalkan perintah-perintah Allah seperti sholat, puasa menjahui riba dan lain sebagainya. Mungkin mereka-mereka ini merasa semua kebebasannya dibatasi dan aturan-aturan yang ada hanya sebagai beban yang mempersulit kita.
 Jika kita berfikir secara sehat, sebenarnya aturan-aturan dan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT adalah sebagai wujud rasa cinta dan kasih sayang_Nya kepada manusia sebagai semua ciptaan_Nya yang paling mulia.
Jika kita review ke belakang manusia diciptakan dari air yang hina ( mani ), air yang jika dijual tidak laku, air yang diberikan ke orang lain tidak ada yang mau, air yang jika orang melihat merasa jijik.
 Tapi dengan sifat Allah SWT Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, dijadikan kedudukan manusia paling mulia diantara semua ciptaan_Nya, hingga malaikat sujud kepada Nabi Adam a.s. sebagai nenek moyang manusia.
Maka dari itu mari kita kikis sedikit demi sedikit sifat pembangkang kita, mari kita kedepankan hati dan fikiran yang jernih serta iman kita dan kita kebelakangkan hawa nafsu kita.
Semua untuk diri kita sendiri bukan untuk orang lain agar hidup kita bahagia di dunia dan lebih-lebih diakhirat dengan memegang Al-Qur’an dan sunnah rasul sebagai peta, petunjuk jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.


Namun terlepas dari semua itu, bagi para ahli kitab sampaikanlah hukum yang sebenar-benarnya dan secara adil, tanpa ada unsur paksaan ataupun intimidasi dari pihak-pihak tertentu. Karena fatwa-fatwa tersebut digunakan sebagai pedoman dan pegangan oleh umatnya dan jangan sampai fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan menimbulkan keresahan di masyarakat, maka laknat Allah SWT siap menimpah. Seperti firman_Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 159 :
“ Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan ( yang jelas ) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-kitab, mereka itu Dilaknati Allah dan dilaknati ( pula ) oleh semua ( makhluk ) yang dapat melaknati “.
( Q.S. Al-Baqarah : 159 )
                Maka dari itu bagi para ahli kitab sampaikanlah hukum dengan sebenar-benarnya, dan untuk penerapannya di kehidupan masyarakat kita serahkan kepada individu masing-masing, karena itu sudah menyangkut urusan pribadi dengan hakim akhirat yaitu Allah SWT, karena hakim di akhirat tidak dapat disuap seperti hakim di dunia, dan hukum diakhirat tidak dapat dibeli seperti hukum di dunia.
                Kita sebagai umat muslim seharusnya bersyukur, Nabi kita Nabi Muhammad s.a.w. mendapatkan mujizat yang tidak didapatkan oleh nabi-nabi lain berupa kitab suci Al-Qur’an yang di turunkan secara langsung oleh Allah SWT yang diwahyukan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. jadi kesucian kitab suci Al-Qur’an tetap terjaga.
                Seperti dijelaskan dalam pengajian rutin di masjid Al-Hidayah Karangpilang minggu lalu yang di asuh oleh Ustd. Jazuli Sholeh bahwasannya pokok yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an adalah hukum yang menjelaskan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan oleh manusia.
                Hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT tidak akan menjadikan umatnya susah, contoh perintah-perintah yang diwajibkan dalam Al-Qur’an; sholat tidak akan menjadikan orang kelelahan tetapi malah menyehatkan karena banyak melakukan gerakan, puasa tidak akan menjadikan orang sakit perut atau maag, malah digunakan dalam ilmu kedokteran, dan lain sebagainya.
Tetapi begitu juga sebaliknya yang dilarang agama seperti zina dapat mendatangkan penyakit yang mematikan, adu domba dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain selain itu dapat merusak persaudaraan serta ketentraman di dalam kehidupan bermasyarakat. seperti dalam firman_Nya dalam surat Thaha ayat 2 :
“ Kami tidak menunurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah “.
( Q.S. Thaha : 2 ).
                Maka dari itu sudah sewajibnya hukum-hukum yang terkandung alam Al-Qur’an mari disampaikan dengan sebenar-benarnya, halal sampaikanlah halal, haram sampaikanlah haram, makruh sampaikanlah makruh, dan mubbah sampaikanlah mubbah.
                Jangan sampai karena uang atau intimidasi pihak tertentu hukum-hukum Al-Qur’an direkayasah, haram dihalalkan, halal di harmkan dan makruh diharamkan, jika itu sampai dilakukan, maka tunggu azab Allah, Allah memperingatkan dalam Firman_Nya :
“ Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit ( murah ), mereka itu sebenarnya tidak memakan ( tidak menelan ) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih “.
( Q.S. Al Baqarah : 174 )
                Semoga Allah SWT Mengampuni semua kesalahan kita, karena kita sebagai manusia tak pernah luput dari kesalahan, serta semoga Allah SWT selalu membimbing kita selalu berjalan di jalan yang diridloiNya lebih-lebih di jaman akhir ini. Amiiiiin.. 

Minggu, 03 Oktober 2010

Pribadi Teladan

Banyak sekali kisah - kisah didalam Al Quran tentang Pribadi Teladan  yang sudah barang tentu menjadi contoh dalam kehidupan sehari - hari,sebagaimana yang di contoh kan Nabi Kita Nabi Besar Muhammad S.A.W, karena beliaulah suri tauladan yang paling baik dan bisa di gunakan di berbagai zaman.

Kenapa saya ulas hal ini,karena pada akhir - akhir ini negara kita hanya disuguhkan berita tentang kekerasan baik itu tawuran,pertentangan antar etnis dan yang lainnya.Maka sepatutnya kita melihat diri kita sebagai seorang muslim apakah kita sudah atau paling tidak mendekati pribadi yang teladan

Pada kesempatan ini saya akan memberikan Link artikel mengenai Pribadi Teladan yang ditulis oleh sobat saya Abu Mushlih Ari Wahyudi yang beliau tulis dalam web.

Semoga link artikel yang  saya  berikan menjadi renungan kita untuk hari mendatang

Selasa, 14 September 2010

Syawal dan Nilai Kedisiplinan

Rangkaian ibadah ritual yang diwajibkan kepada umat Islam seperti sholat, puasa, haji dan lain-lain merupakan rangkaian ibadah spiritual yang semestinya bila diamalkan akan membuat pelaku menjadi individu yang sholeh secara sosial. Artinya, bila ibadah tersebut dilaksanakan dan dipahami secara benar oleh setiap muslim, maka dampak yang dirasakan bukan hanya bagi pelaku saja melainkan juga terhadap lingkungan sekitarnya.
Karena selain memperoleh pahala sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah, juga terkandung pesan moral nan mendalam yang bila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dapat membawa umat Islam pada derajat kemuliaan yang tinggi, baik dalam hubungan sesama manusia atau hubungan kepada Allah.
Selain rasa ikhlas, pesan lain yang sangat menonjol adalah kedisiplinan. Mustahil sholat, puasa, zakat dan haji kita serta rangkaian ibadah lainnya dapat membawa kesalehan dalam kehidupan sehari-hari bila tanpa dilandasi oleh sebuah kedisiplinan. Karena Islam sangat mementingkan arti dari sebuah kedisiplinan yang tinggi dalam pelaksanaan serangkaian ibadah kita agar membawa perubahan sosial yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

Kemajuan serta kemakmuran yang telah dicapai oleh Negara-negara seperti Inggris, Perancis, AS, Korea Jepang dll. adalah bukti yang tak terbantahkan karena memiliki budaya kedisiplinan yang tinggi. Sedangkan Negara-negara muslim dimana umat Islam menjadi penduduk mayoritas, kebanyakan mengabaikan nilai sebuah kedisiplinan hingga mengalami ketertinggala dalam berbagai bidang. Bukan hanya itu saja, masalah pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, anarkisme, ditambah lagi berbagai konflik yang timbul karena adanya perbedaan, seakan identik dengan kebanyakan Negara-negara muslim.
Dari sini kita mendapat gambaran nyata bahwa ajaran Islam yang begitu mulia telah diamalkan oleh mereka yang jelas-jelas non muslim. Sedangkan mayoritas masyarakat muslim seakan tertidur dan meninggalkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam yakni pentingnya melaksanakan arti sebuah kedisiplinan!.
Indonesia misalnya, sebagai Negara yang penduduknya adalah mayoritas muslim terbesar didunia, termasuk dalam 10 negara terkorup didunia. Hal ini sungguh ironis! Belum lagi tingkat kemacetan yang sangat parah, kasus pencemaran lingkungan yang sangat tinggi, juga ternasuk Negara dengan stigma perusakan hutan tercepat didunia serta pandangan negatif lainnya yang dialamatkan kepada Negara yang kita cintai ini.
Sebagai penduduk Negara ini, selayaknya kita malu, sedih, geram, marah atas predikat yang dialamatkan pada kita. Namun, semua itu takkan dapat hilang begitu saja hanya dengan sikap tersebut. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi keadaan hingga seperti sekarang ini. Masalah yang kita hadapi begitu kompleks hingga kita perlu untuk membenahi hampir semua sector dalam kehidupan bermasyarakat.
Melihat begitu besarnya manfaat disiplin bila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan beitu luasnya efek negatif yang ditimbulkan bila diabaikan, maka penting bagi kita baik sebagai individu atau sebagai warga Negara pada umumnya bersama-sama mengupayakan agar sikap disiplin tertanam dalam diri kita, keluarga dan masyarakat pada umumnya serta memberikan suri tauladan dalam aktifitas sehari-hari.
Disiplin dapat diartikan sebagai sikap patuh untuk menghormati dan melaksanakan suatu system yang mengharuskan seseorang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan aturan yang telah berlaku. Dengan kata lain, disiplin merupakan sikap menaati peraturan yang telah ditetapkan dengan tanpa pamrih.
Al-Qur’an dan hadits Nabi banyak yang menyinggung tentang disiplin dan menaati peraturan yang telah ditetapkan. Antara lain surat An-Nisa : 59, yang artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Pesan yang terkandung dalam ayat tersebut adalah patuh dan taat kepada para pemimpin dan jika terjadi perselisihan, maka harus dikembalikan kepada aturan Allah dan Rasul-Nya. Namun tingkat kepatuhan umat terhadap pimpinannya tidaklah bersifat mutlak. Jika perintah itu bertentangan dengan aturan-aturan Allah dan RasulNya, maka perintah tersebut boleh ditolak dan dimusyawarahkan. Jika aturan itu tidak bertentangan dengan aturan Allah dan RasulNya, maka Allah menyatakan ketidak sukaanya kepada orang-orang yang melampaui batas.
Disamping makna taat dan patuh pada peraturan, disiplin juga berarti sikap memperhatikan dan mengontrol dengan baik waktu yang digunakan. Sikap tanggung jawab atas amanat yang telah dibebankan kepadanya juga termasuk makna dari disiplin. Islam mengajarkan kepada kita agar menerapkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Al-Qur’an menyebutkan berulang kali akan pentingnya mengatur waktu dan memperhatikan waktu dengan sebaik-baiknya. Misalnya: Wal Fajri (demi waktu fajar), Wadh-Dhuha (demi waktu Dhuha/pagi), Wan Nahar (Demi waktu siang), Wal Ashr (Demi waktu sore), dan Wal Lail (Demi waktu malam). Dengan demikian Allah telah mengingatkan kepada kita akan pentingnya mengatur waktu dengan baik. Sudahkah kita beramal dengan baik? Sudahkah kita mengerahkan segala potensi untuk kebaikan? Karena kalau kita lalai, maka waktu itulah yang akan membunuh dan menebas kita. Yang kemudian timbul adalah kerugian apabila kita tidak mempergunakan waktu dengan baik. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi: “ Waktu itu seperti pedang. Bila engkau lalai menggunakannya, maka pedang itu sendiri yang akan menebasmu”.
Jadi kita harus menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar tiada kerugian dan penyesalan diakhir nanti. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an : 1.Demi masa. 2.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Yang terpenting adalah jangan sampai penggunaan waktu untuk akherat mengorbankan waktu untuk duniawi dan begitu pula sebaliknya. Jadi harus seimbang dan proporsional.
Tentang kedisiplinan, kita mendapat pelajaran penting dari sejarah perjalanan Nabi. Ketika Nabi dan para sahabat menghadapi kaum kafir dalam perang Uhud, ada sebagian pasukan yang ditugaskan untuk menempati posisi penting yang telah terancang dalam strategi perang. Namun pasukan ini mengabaikan perintah dan tugas dari Nabi. Sehingga pasukan Islam dalam perang ini mengalami kekalahan yang sangat besar. Ini merupakan contoh betapa pentingnya sikap disiplin dalam berperang. Tentu kita bisa membayangkan bagaimana akibatnya bila terjadi dalam kondisi dan aspek lainnya.
Pada abad VII M, Islam memiliki generasi emas yang sangat handal di berbagai bidang keilmuan. Diantaranya Ibnu Sina (Avicenna) yang ahli bidang kedokteran, Al Jabbar (Al Ghebra) yang ahli dibidang Matematika, juga Ibnu Khaldun yang ahli di bidang Sosiologi. Mereka begitu tekun dan betul-betul disiplin dalam menekuni ilmu yang dipelajari. Namun dalam perkembangan selanjutnya, hal tersebut malah banyak diamalkan oleh bangsa barat yang jelas-jelas non Islam. Sedang umat Islam malah meninggalkannya. Sebagai muslim, kita dituntut untuk melaksanakan dan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, disiplin termasuk tiang penting dalam ajaran Islam.
Selama satu bulan kita dilatih untuk bersikap jujur dan disiplin dalam pelaksanaan ibadah puasa. Didalamnya terkandung unsur kedisiplinan yang sangat tinggi bagi kita bila dipahami secara mendalam. Kita sendiri yang secara jujur bisa menjawab apakah ibadah kita betul-betul dilaksanakan dengan sungguh-sungguh atau hanya sebatas mendapatkan dahaga dan lapar saja. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan pencerahan setelah satu bulan kita berpuasa. Dalam artian, nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa dapat kita pertahankan dan mampu kita terapkan setelah ibadah puasa berlalu.
Dengan demikian kita mampu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa dalam kehidupan sehari-hari dan ikut memberikan contoh serta suri tauladan pada keluarga dan lingkungan disekitar kita untuk perubahan yang lebih baik. Mari kita mulai mengamalkan kedisiplinan yang pertama dari diri kita sendiri sebagai konsekuensi bahwa puasa kita selama bulan Ramadhan benar-benar memberikan pencerahan dan menjadi insan yang semakin bertakwa kepada Allah SWT. Semoga di bulan Syawwal ini, kita kembali fitri guna menyongsong hidup yang lebih baik. Amin ya Rabbal Alamin. (Wallahu A’lam).

Page Rank

Powered by  MyPagerank.Net SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Total Tayangan Halaman

Entri Populer

My Friends On TWITTER

My Live Traffic

 

Copyright © 2009 by RemasHidayah